Kalau kita bicara tilang menilang, pasti kita tau sebabnya apa. Nah kali ini saya akan menceritakan kejadian yang sebenarnya tidak ingin saya ulangi, yaitu:
kena tilang Polisi.
Waktu itu saya mengendarai motor untuk mengikuti acara foto wisuda kelas ke daerah Bandung Kota,tepatnya Gasibu.
Ga ada firasat sedikitpun akan gimana nantinya saya di tilang, karena setiap berpergian kemanpun saya selalu mengecek kendaraan yang mau saya pakai, mulai dari bensin, ban, spion, lampu utama dan sent beserta surat suratnya sehingga udh bisa dibilang OK.
Pada saat pergi, ada banyak operasi/rajia kendaraan dan saya melenggok dengan nyantainya dan sedikit menertawakan orang yang kena tilang, hihii...*maklum saya ga kena tilang
Disitu saya liat banyak sekali keanehan keanehan dan kekonyolan-kekonyolan sikap orang yang ditilang sama orang yang menilangnya, haha...
Ada yang dibawa ke warung pinggir jalan, ada yang dibawa ke belakang pohon, ada juga dibawa ke pos, *disitu saya gatau mereka lagi ngapain, haha..
Setelah area rajia sudah saya lewati kemudian sampailah saya di tujuan.
Beberapa jam saya ditempat lokasi, hingga akhirnya pukul 19:00 wib, saya dan teman beranjak pulang.
eh tadinya kan saya mau pulang, taunya saya diajak teman untuk nobar Indonesia dulu nyambil nongkrong di warung kopi, yaudah saya ngikut aja =D haha...
eitttt singkat cerita pas bener di belokan pas jalan mau ke venue nobar sama ngopi, saya kena CEGAT bapak Polisi, hihii...
"MINGGIR!!! LAMPUNA HURUNGKEUN!!!..." bapak Polisi nada sedikit tinggi,
saya pun berhenti dan minggir, lalu nanya
"Kenapa pak? ada apa ?" *soalnya ngerasa ga ada kesalahan yg dibuat,Lampu nyala ko
"LAMPU PAREUM TAH" bapak Polisi memberi tahu
"hah??? ini lampunya nyala pak, kenapa saya diberhentikan ?" *karena memang betul lampu motor
saya nyala
kemudian bapak tersebut menyuruh saya untuk masuk ke Pos.
saya pun masuk ke pos, dan langsung diarahkan ke bapak yang bagian catat mencatat surat tilang,
AS YOU KNOW
disitu saya masih ingat ditanya apa saja,
#1 : "SIM dan Surat-suratnya ?"
#2 : "Sudah dari mana ?"
#3 : "Kesalahannya apa ?"
#4 : "Orang mana ?"
#5 : "Ini motor siapa?"
#6 : "Orang tua kerja apa?"
#7 <- pas ke tujuh lalu bapak tersebut menulisnya di surat tilang warna merahnya, sambil ngomongin denda denda "!@#*&&^%5r545*&&%$$#3w@!##@%^%$%^(*&*^^&^blablablblablablabla.... denda semuanya jadi Rp 250.000,karena ade melanggar pasal 291 tidak menyalakan lampu di malam hari" kata bapanya.
disitu saya merasa sedih mendengarnya, karena saya tidak punya uang sebesar itu :'( *isi dompet
cuman bon bekas belanja sama katu karcis bekas parkir #IRONIS
lalu saya berkata ke bapak dengan sedihnya "oh iya pak, saya terima denda dan saya mengakui kesalahan yang dibuat saya dan tidak akan mengulanginya lagi pak "
lalu bapaknya bilang "iya de, bahaya kalau tidak menyalakan lampu utama dimalam hari"
"PADAHAL LAMPU KENDARAAN SAYA KAN NYALA" *saya ngomel di dalam hati
kemudian bapak tersebut BERPROMOSIRIA layaknya SPG atau orang orang MLM yang lagi nge prospek calon downlinenya, haha...
"SEBENARNYA KITA DISINI BISA BANTU ADE SUPAYA TIDAK BAYAR DENDA SEGITU, KALO MAU DISINI AJA DISELESAIKANNYA" (*halus banget kaan
Maskipun saya orang awam hukum, tapi saya rasa ga ada penyelesaian hukum yang seperti itu, lalu saya pun naya ke bapaknya,
"Kalau saya mau menyelsaikan masalah ini opsi lain bisa kemana dan bagaimana ya pak?"
lalu bapak itu baik sekali dengan memberi tahu opsi lain untuk menyelesaikan pelanggaran lalu lintas ini beserta prosedurnya, begini :
" ada tiga opsi untuk menyelesaikan tilang, diantaranya :
#1
ade bisa bayar langsung ke Kantor POLSEK dimana ade ditilang oleh polisi bersangkutan dengan membayar denda maksimal lalu barang bukti(SIM) bisa langsung diambil.
#2
ade bisa mengikuti sidang di Pengadilan Tingi Negeri Bandung sesuai tanggal sidang yang kami berikan kepada ade, barang bukti (SIM) diambil di persidangan.
#3
ade bisa langsung transfer ke bank BRI cabang Asia Afrika dengan nominal transfer sebesar Denda maksimal yang ada di surat tilang. kemudian alat bukti (SIM) bisa diambil di POLSEK bersangkutan dengan memberikan bukti transfer dari bank.
"
saya pun menjadi tahu dan memilih opsi kedua untuk mengikuti sidang di Pengadilan Tinggi Negeri Bandung, tapi yang ga disangka sangka saya bapak tersebut menekankan kembali untuk segera menyelesaikannya di tempat, dengan bilang sperti berikut :
"SEBENARNYA KITA DISINI BISA BANTU ADE SUPAYA TIDAK BAYAR DENDA SEGITU, KALO MAU DISINI AJA DISELESAIKANNYA"
saya pun langsung TOLAK mentah-mentah dan bilang
"Oh ga usah pak, ini kan kesalahan saya, saya siap sedia untuk menyelesaikannya sesuai alur hukum yang berlaku dan siap mengikuti sidang saja pa"
bapa tersebut pun kemudian mengulang penawarannya hingga berkali kali *kesannya maksa
"SEBENARNYA KITA DISINI BISA BANTU ADE SUPAYA TIDAK BAYAR DENDA SEGITU, KALO MAU DISINI AJA DISELESAIKANNYA"
dan lebih anehnya lagi bapak tersebut memprospek saya lagi, dengan cara membeberkan denda dan bagaimana penyelesaiannya, *kesannya nakut-nakutin
"Ade kalau ikut sidang, ade harus membayar ke bank dengan nominal sebesar denda maksimal yang tertera di surat tilang ade (saya dikasih warna merah), kemudian ade harus membayar administrasi sekian, bayar sidang sekian,"
(* saya lupa total yg harus dikeluarkan saya berapa, pokoknya jadi lebih dari 300rb
saya pun meng iyakan pernyataan bapak tersebut,
kemudian bapak tersebut meyakinkan kembali saya untuk memilih penyelesaian dengan cara beliau, tapi saya tetap menyatakan untuk ikut sidang :)
selesailah,
kemudian si bapak tersebut memberi surat tilangnya yang berwarna merah, tapi,
eiiiitt belum selesai deh.. berbekal informasi yang saya baca di fb tentang surat tilang, seharusnya itu kan warna biru, dengan alasan kalo merah itu :
"SLIP MERAH artinya :kita menyangkal telah melanggar peraturan dan mau membela diri secara hukum (ikut sidang) di pengadilan."menurut ibu intan (fb : Intan Intan) nah kan posisi saya tidak menyangkal dan mengakui kesalahan yang telah dibuat, lalu lah saya meminta ke bapaknya untuk diberikan surat tilangnya yang warna biru dengan alasan kalau
"SLIP BIRU artinya :Kita mengakui kesalahan dan bersedia membayar denda. Kita tinggal transfer dana via ATM ke nomor rekening resmi Bank BUMN BRI. Setelah itu kita tukarkan bukti transfer dengan SIM/STNK kita di Ktr Polsek terdekat dimana kita ditilang.Denda resmi KUHP mobil tidak lebih dari 50rb dan dananya resmi masuk Kas Negara" menurut ibu intan (fb : Intan Intan)
"terlahirlah disitu saya mendapatkan surat tilang yang berwarna biru "
lalu sekarang bagaimana menyelsaikan masalah ini ?